Cuap cuap Nie.........

Selamat Datang Di Blog Tapu.....

Salam Buat semuanya Dengan merosotnya kesadaran kita tentang pelestarian budaya sehingga budaya kita hampir tenggelam dengan budaya eropa, maka saya mengajak teman-teman untuk melestarikan budaya kita di indonesia yang beraneka ragam.

Sabtu, 20 Desember 2008

Logo Bulungan

Datuk Abdul Hamid Didaulat sebagai Pemangku Sultan

TANJUNG SELOR-Bertujuan untuk menghidupkan kembali kraton Bulungan, sekaligus menyatukan keluarga kesultanan Bulungan yang tersebar di berbagai daerah, selama dua hari kemarin keluarga besar kesultanan Bulungan menggelar Musyawarah Besar (mubes) di Museum Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas.

Selain sebagai ajang silaturahmi sekaligus menyatukan kembali keluarga kesultanan, dalam mubes ini juga telah disepakati bersama penunjukan Datuk Abdul Hamid sebagai Pemangku Sultan Bulungan. “Penunjukkan Abdul Hamid sebagai pemangku sultan adalah atas kesepakatan bersama dari keluarga,” kata H Datuk Yaser Arafat, salah satu kerabat keraton.

Mubes sendiri, kata Datuk Yaser telah dimulai sejak Sabtu (29/11) lalu dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Bulungan, H Karsim Al Amrie mewakili pihak Pemerintah Kabupaten Bulungan. “Mubes ini kami laksanakan selama dua hari sampai dengan hari ini (kemarin). Pesertanya adalah para keluarga besar kesultanan, tak hanya dari Tanjung Palas dan Tanjung Selor saja, tapi juga hadir kerabat dari Salimbatu dan beberapa daerah lainnya,” kata Datuk Yaser lagi.

Tak hanya menunjuk pemangku sultan, dalam mubes tersebut juga dipilih beberapa orang sebagai menteri dan kepala biro yang akan membantu tugas pemangku sultan nanti. Ada 7 menteri yang ditunjuk pada kesempatan itu. Di antaranya ada menteri pemerintahan, menteri sekretaris negara (mensesneg), menteri koordinator politik dan keamanan, menteri perekonomian, menteri keuangan serta menteri sosial.

Kemudian di bawah menteri, ada beberapa kepala biro yang juga telah ditentukan sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing, antara lain biro hukum, biro keamanan dan biro kehumasan, protokol dan lain-lainnya. “Nantinya pemangku sultan ini yang mengeluarkan SK (surat keputusan) pengangkatan adalah dewan kesultanan. Sedang menteri dan biro SK-nya ditandatangani oleh pemangku sultan,” jelasnya.

Pemangku sultan sendiri, terang dia, nantinya memiliki beberapa tugas. Antara lain, membenahi dan menyatukan kembali kerabat kesultanan Bulungan dengan rakyatnya. Tugas kedua, adalah mempersiapkan penentuan siapa Sultan Bulungan yang definitif. “Jadi nantinya akan lagi mubes untuk menentukan Sultan Bulungan yang definitif. Hanya kapan waktunya masih belum ditentukan. Untuk sementara karena belum ada sultan yang definitif, tugas kesultanan diemban oleh pemangku sultan,” kata dia.

Tugas pemangku sultan selanjutnya, adalah mengembangkan seni dan budaya peninggalan kesultanan Bulungan. “Yang pasti melalui mubes ini, kami keluarga kesultanan berniat untuk memajukan dan mengembangkan kembali keraton atau kesultanan Bulungan, sekaligus menyatukan keluarga kesultanan,” imbuhnya.(ngh)

Asal mula Penyebaran Suku Tidung

Pada asalnya Sabah ini (Borneo Utara) dikuasai oleh kerajaan Brunei dikenali sebagai Sarawak keseluruhannya sebelum diubah menjadi Borneo oleh James Brook dan syarikat British Hindia Timur (Rujuk surat pajak Borneo Utara dalam Buku Tausug & Kesultanan Sulu). Kesultanan Islam Brunei bermula pada tahun 1368 setelah Raja Awang Alak Batatar memeluk Islam (Sila rujuk Tarsila Brunei I & II). Pada 1610 anakanda Sultan Brunei bernama Raja Bongsu ditabal menjadi Sultan Sulu (menggantikan bapa saudaranya Sultan Sulu yang wafat tanpa anak) dengan gelaran Sultan Mawallil wasit (inilah kerabat Brunei yang pertama menjadi Sultan Sulu).

Kekuasaan Brunei sangat luas dari Sarawak hingga ke Manila (Fi Amanillah-mendapat keamanan Allah) termasuklah keseluruhan Sabah ketika itu. Pada 1665 Brunei mengalami perang saudara dan berlanjutan selama 10 tahun. Kemiskinan dan kemelaratan akibat perang saudara menyebabkan Brunei hampir hilang dalam peta dunia. Hinggakan Sabah ketika itu tidak dapat lagi ditadbir oleh Brunei. Pada 1675 Sultan Brunei minta bantuan Sultan sulu untuk selesaikan masaalah mereka. Pahlawan Sulu datang dengan bala tenteranya dan membunuh si pemberontak maka tamatlah perang saudara 10 tahun itu dan Sabah dihadiahkan oleh Sultan Brunei kepada Pahlawan Sulu untuk ditadbir oleh Sultan Sulu. Bermulalah pembukaan tanah dari teluk kimanis sampai ke teluk Sibuku di kalimantan oleh Datu-Datu Diraja Sulu untuk ditadbir. Maka benarlah kata-kata bro Bushido tentang tiadanya penguasaan Brunei terhadap momugun dalam masa 10 tahun itu.

Kebebasan momugun dan kaum lain di Borneo Utara (Sabah) ketika itu berlanjutan sehingga 10 tahun lagi sehinggalah pada 1685 barulah Sultan Sulu (Sultan Shahabuddin) menguatkuasakan undang-undang cukai. orang2 Sulu tidak mengutip cukai sebelum itu kerana sibuk membuka tanah perkampungan dari teluk kimanis hingga ke teluk Sibuku Kalimantan. Bermakna selama 20 tahun Borneo Utara tidak ditadbir. Prof. Cesar Adib Majul menyatakan dalam bukunya "Muslim In The Philipines" bagaimana Sultan Sulu bertungkus lumus menjaga perairan Borneo Utara dari kekuasaan Spanyol ketika itu. Perlawanan dua aqidah untuk berebut kuasa perdagangan dan penyebaran agama memaksa Sultan Sulu memerangi siapa sahaja yang enggan membayar cukai termasuk Momugun dan kaum Tidung. Ketika ini Kaum Dayak (semua kaum pribumi) lari masuk ke tengah hutan dan gunung-ganang agar pengutip cukai tidak sampai kepada mereka. Yang tak lari terpaksa menjaga ternakan atau pengembala binatang kepunyaan para Datu-Datu Diraja Sulu (pengembala tidak dizalimi - buktinya kata Bro Bushido si pengembala Momugun memberi syarat tertentu sebagai upah).

Rp 900 Juta untuk Gua Gunung Putih

PEMKAB Bulungan melalui Kantor Pariwisata dan Kebudayaan akan segera melakukan pembenahan terhadap objek wisata alam di Gunung Putih, Kecamatan Tanjung Palas. Terutama pembenahan pada bagian gua yang ditemukan beberapa waktu lalu.

Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Bulungan Drs Abidinsyah Achmad mengatakan, untuk tahap awal ini melalui APBD 2008 telah dianggarkan sebesar Rp 900 juta lebih, khusus untuk pembenahan gua. Di antaranya, untuk pembuatan pagar, pemasangan lampu dan beberapa perbaikan lainnya di dalam gua.

“Sekarang masih tunggu lelang. Kita memang sangat berhati-hati, karena kita menginginkan kontraktor yang melaksanakan kegiatan di Gunung Putih nanti, benar-benar kontraktor yang paham mengenai objek wisata, terutama soal gua. Jadi tidak sembarangan,” ujar Abidin yang ditemui di sela-sela mengunjungi terowongan di Sungai Tempurau, belum lama ini.

Dikatakannya, selain memiliki gua yang potensial untuk dikembangkan menjadi objek wisata alam, dari segi wisata budaya Gunung Putih juga merupakan salah satu bukti sejarah bahwa Kesultanan Bulungan pernah ada, yang juga merupakan salah satu sejarah kesultanan yang tertua di Indonesia. “Pada objek wisata alam Gunung Putih ini terdapat beberapa gua yang terhubung sampai ke puncak gunung putih tersebut yang konon merupakan tempat bersemedi sultan di masa lalu,” ujarnya.

Seperti diketahui, objek wisata Gunung Putih merupakan batu kapur yang berwarna putih. Di dalamnya terdapat gua yang cukup luas dan menarik. Tak hanya itu, dari puncak gunung ini, panorama dan pemandangan wilayah Bulungan tersaji dengan indahnya.

Bupati (H Budiman Arifin), kata Abidin, meminta agar objek wisata alam ini segera dibenahi. Baik akses jalan maupun renovasi dan penambahan beberapa sarana pendukung agar ke depan menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD). “Tahun ini kita upayakan sudah ada perubahan kearah yang lebih baik, agar objek wisata alam ini dapat menarik minat turis domestik maupun manca negara untuk berkunjung,” ujarnya.(ngh)